Categories: Kesehatan

Petugas Kesehatan Perlu Memperkuat Surveilans Kasus Polio TIMES Indonesia

15249 - Situs Berita Online Terbaik

TimesIndonesia, Yogyakarta – Belum berakhir, dunia dilanda pandemi Covid-19 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali mengumumkan wabah baru yang disebut wabah Clade atau yang sebelumnya dikenal dengan monkeypox.

Wabah baru penyakit semacam itu akan terus terjadi. Namun, program untuk mengurangi penyakit seperti polio atau kelumpuhan harus dilaksanakan bersamaan dengan upaya mengatasi pandemi Covid-19.

Topik ini dibahas dalam webinar berjudul "Mengatasi Tantangan Implementasi Selama Respon Epidemi: Pelajaran dari Inisiatif Pemberantasan Polio Global." Webinar ini merupakan inisiatif dari UGM Center for Tropical Medicine bekerja sama dengan Johns Hopkins University dan Universitas Udayana dan didanai oleh Bill & Melinda Gates Foundation.

Ketua Umum Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Hariyadi Wibisono, Dr. Hariyadi Wibisono, MD, mengatakan ada beberapa kesamaan antara layu paralitik dan surveilans Covid-19 dalam hal deteksi kasus dan pengambilan sampel. dan sampel penelitian.

Menurut dia, flaccid paralysis sendiri merupakan kelumpuhan ringan yang terjadi secara tiba-tiba dan disebabkan oleh virus polio. Oleh karena itu, perlu penguatan kapasitas tenaga kesehatan sebagai garda terdepan dalam proses deteksi yang merupakan kunci penting keberhasilan surveilans polio dan Covid-19 di masa epidemi.

“Menurut surveilans, jadwal vaksinasi menjadi faktor penting dalam pencegahan penyakit menular seperti polio dan covid-19,” kata Hariadi kepada The Times Indonesia, Senin (22 Agustus 2022).

Dr Stephen Chacko, MD, perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia di Indonesia, mengatakan tantangan umum yang dihadapi program vaksinasi polio dan covid-19 selama epidemi adalah penutupan sementara pusat vaksinasi, prioritas yang berbeda di antara para profesional kesehatan, sumber daya yang terbatas dan ketakutan akan paparan covid. -19. -19.19 Saat melakukan aktivitas di luar rumah. Home Spread dan Kebingungan.

Masalah tersebut, kata dia, dapat dimitigasi dengan komitmen para politisi serta pengembangan dan distribusi vaksin yang memadai di masa pandemi.

Sementara itu, peneliti Universitas Johns Hopkins Olakunle Allonge, MD, mengatakan program pengurangan polio perlu dilakukan secara konsisten di seluruh subsistem kesehatan. Hal ini berguna untuk mempersiapkan dan menanggapi keadaan darurat kesehatan, serta untuk membangun ketahanan sistem kesehatan.

“Perlu ada integrasi antara kampanye dan mobilisasi sosial untuk mendukung program imunisasi,” kata John.

Ia juga menjelaskan bahwa vaksinasi kelompok rentan harus diprioritaskan dengan sistem koleksi. Sementara itu, surveilans berbasis masyarakat diperlukan untuk menjawab tantangan surveilans yang pada akhirnya dapat meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mendeteksi kasus polio dan COVID-19 secara dini dan memastikan keberhasilan surveilans global yang terkoordinasi.

“Memiliki pusat operasi kedaruratan kesehatan untuk memfasilitasi kerjasama berbagai pihak dan koordinasi antar pemangku kepentingan,” kata John tentang pentingnya program pengurangan polio. (*)

**) Dapatkan update harian informasi terpilih dari TIMES Indonesia dengan bergabung di grup Telegram TI Update. Suka, klik tautan ini dan bergabung. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi Telegram di ponsel Anda.

Pencegahan gangguan kesehatan jiwa untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA

admin

Share
Published by
admin
Tags: kesehatan